SUMBER:https://islamweb.net/ar/article/228760/%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D9%88%D8%A7-%D8%A3%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%A8%D9%84-%D8%A3%D9%86-%D8%AA%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D9%88%D8%A7
Wahai Para Pemuda!
Sesungguhnya panjang angan-angan adalah penyakit yang obatnya terdapat dalam dua hal yang agung:
- Selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri).
- Selalu mengingat kematian.
Muhasabah (Introspeksi Diri)
Maksud dari muhasabah adalah seseorang meneliti amalnya, memperhatikan perkataan dan perbuatannya, serta semua yang keluar darinya secara berkala. Jika ia menemukan kebaikan, maka ia lanjutkan dan tambahkan dengan yang serupa. Namun, jika ia mendapati keburukan, maka ia perbaiki jika memungkinkan, bertobat, beristighfar, serta meninggalkan perbuatan serupa di masa mendatang.
Dalil tentang pentingnya muhasabah terdapat dalam firman Allah ﷻ:
Allah ﷻ berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: 18)
Allah ﷻ berfirman:
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ}
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dirugikan barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan."
(QS. Al-Anbiya: 47)
Allah ﷻ berfirman:
{يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ}
"Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung (semua amal perbuatan itu), padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu."
(QS. Al-Mujadilah: 6)
Dari ayat-ayat tersebut, para ulama memahami bahwa Allah ﷻ selalu mengawasi amal perbuatan hamba-Nya. Setiap amal telah dihitung dengan teliti, dan setiap manusia akan berdiri di hadapan-Nya untuk mempertanggungjawabkan sekecil apa pun perbuatannya. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari hisab yang berat kecuali dengan selalu melakukan muhasabah dan pengawasan diri dalam setiap nafas, langkah, perkataan, dan perbuatan.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"الكَيِّسُ مَن دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوتِ، وَالعَاجِزُ مَن أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ"
"Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong kepada Allah."
(HR. At-Tirmidzi, hasan)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"لا تزولا قدما عبد يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ماذا عمل فيه"
"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, (2) tentang masa mudanya, bagaimana ia gunakan, (3) tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, (4) tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan."
(HR. At-Tirmidzi, hasan sahih)
Dengan ayat-ayat ini dan yang serupa dengannya, para pemilik wawasan mengambil pelajaran bahwa Allah Ta'ala selalu mengawasi amal perbuatan mereka. Allah telah mencatatnya secara lengkap dan menghitungnya secara rinci. Mereka yakin bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tampak sepele seperti bisikan hati, pandangan mata, ucapan, dan setiap gerakan. Oleh karena itu, mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk selamat dari hisab yang berat adalah dengan selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri) serta mengawasi diri sendiri dengan penuh ketelitian, memperhitungkan setiap hembusan nafas, langkah, dan perkataan mereka.
Hal ini merupakan kebiasaan orang-orang yang cerdas dan berakal, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ:
"الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني"
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah." (HR. Tirmidzi, hadis hasan).
Rasulullah ﷺ juga telah mengabarkan kepada kita bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu, sebagaimana dalam sabda beliau:
"لا تزولا قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ماذا عمل فيه"
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya, bagaimana ia menggunakannya; tentang masa mudanya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya."
Maka, wajib bagi setiap orang untuk menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah dan dimintai pertanggungjawaban. Orang yang menyadari hal ini seharusnya mempersiapkan jawaban yang tepat dan benar untuk menghadapi hisab tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh kepada seseorang:
"Berapa usiamu?"
Orang itu menjawab, "Enam puluh tahun."
Fudhail berkata, "Berarti selama enam puluh tahun engkau berjalan menuju Allah dan sebentar lagi engkau akan sampai."
Orang itu berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un."
Fudhail bertanya, "Apakah engkau tahu maknanya?"
Orang itu menjawab, "Ya, aku tahu bahwa aku adalah hamba Allah dan kepada-Nya aku akan kembali."
Fudhail berkata, "Wahai saudaraku, siapa yang tahu bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka ia harus menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya. Dan siapa yang tahu bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ia harus tahu bahwa ia akan dihisab. Dan siapa yang tahu bahwa ia akan dihisab, maka hendaknya ia menyiapkan jawaban." (Hilyatul Auliya’)
Muhasabah ini sangat penting, sebagaimana yang dipesankan oleh Umar bin Khattab رضي الله عنه:
"حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوا أعمالكم قبل أن توزن عليكم، وتزينوا للعرض الأكبر {يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ} [الحاقة:18]، وإنما يخف الحساب يوم القيامة على من حاسب نفسه في الدنيا"
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang, dan bersiaplah untuk hari perhitungan yang besar. 'Pada hari itu kamu akan dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.' (QS. Al-Haqqah: 18). Sesungguhnya hisab akan menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya di dunia."
Beliau juga berkata:
"حاسب نفسك في الرخاء قبل حساب الشدة، فإن من حاسب نفسه في الرخاء عاد أمره إلى الرضى والغبطة، ومن شغلته حياته، وألهته أهواؤه عاد أمره إلى الندامة والحسرة"
"Hisablah dirimu di waktu lapang sebelum datang masa sulit. Barang siapa yang menghisab dirinya saat lapang, maka urusannya akan berakhir dengan keridhaan dan kebahagiaan. Sedangkan siapa yang disibukkan oleh kehidupannya dan terpedaya oleh hawa nafsunya, maka urusannya akan berakhir dengan penyesalan dan kesedihan."
Allah juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri:
{وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ}
("Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.") (QS. Al-Qiyamah: 2)
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Engkau tidak akan menemukan seorang mukmin kecuali ia selalu menyesali dirinya sendiri: Mengapa aku melakukan ini? Apa tujuan dari perbuatanku ini?"
Malik bin Dinar juga berkata:
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri: Bukankah engkau yang melakukan ini dan itu? Lalu ia menundukkan dirinya, mengekangnya, dan menundukkannya dengan kitab Allah, sehingga kitab itu menjadi pemimpinnya."
Maimun bin Mihran berkata:
"Seorang hamba tidak akan menjadi muttaqin (bertakwa) sampai ia menghisab dirinya sendiri sebagaimana seorang pedagang yang sangat teliti dalam menghitung modal dan keuntungannya."
Contoh Muhasabah:
Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan bahwa Umar bin Khattab pernah memasuki kebun kurma dan terdengar berkata kepada dirinya sendiri: "Umar bin Khattab, Amirul Mukminin! Hebat! Demi Allah, engkau harus bertakwa kepada Allah, wahai Umar, atau Allah akan mengazabmu!"
Yazid Ar-Raqashi setiap hari menghisab dirinya, lalu menangis dan berkata: "Celakalah engkau, wahai Yazid! Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah kematianmu? Siapa yang akan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapa yang akan bersedekah untukmu setelah kematianmu?"
Manfaat Muhasabah:
Menyadari nikmat Allah dan memahami kewajiban bersyukur kepada-Nya.
Memahami kekurangan diri dalam mensyukuri nikmat Allah.
Mengenali penyakit hati dan mencari cara untuk mengobatinya.
Menghindari kelalaian akibat panjang angan-angan.
Menjaga diri dari kesalahan dan segera bertaubat jika tergelincir.
Selalu siap menghadapi pertemuan dengan Allah.
Memudahkan hisab pada hari kiamat.
Barang siapa yang ingin hisabnya ringan di hadapan Allah, hendaknya ia menghisab dirinya sekarang. Rasulullah ﷺ bersabda:
"الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني"
(HR. Tirmidzi, hadis hasan).