Selasa, 25 Februari 2025

WAHAI PARA PEMUDA HISABLAH DIRIMU SEBELUM ENGKAU DIHISAB

SUMBER:https://islamweb.net/ar/article/228760/%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D9%88%D8%A7-%D8%A3%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%A8%D9%84-%D8%A3%D9%86-%D8%AA%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D9%88%D8%A7

Wahai Para Pemuda!

Sesungguhnya panjang angan-angan adalah penyakit yang obatnya terdapat dalam dua hal yang agung:

  1. Selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri).
  2. Selalu mengingat kematian.

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Maksud dari muhasabah adalah seseorang meneliti amalnya, memperhatikan perkataan dan perbuatannya, serta semua yang keluar darinya secara berkala. Jika ia menemukan kebaikan, maka ia lanjutkan dan tambahkan dengan yang serupa. Namun, jika ia mendapati keburukan, maka ia perbaiki jika memungkinkan, bertobat, beristighfar, serta meninggalkan perbuatan serupa di masa mendatang.

Dalil tentang pentingnya muhasabah terdapat dalam firman Allah ﷻ:

Allah ﷻ berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: 18)

Allah ﷻ berfirman:
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ}
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dirugikan barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan."
(QS. Al-Anbiya: 47)

Allah ﷻ berfirman:
{يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ}
"Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung (semua amal perbuatan itu), padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu."
(QS. Al-Mujadilah: 6)

Dari ayat-ayat tersebut, para ulama memahami bahwa Allah ﷻ selalu mengawasi amal perbuatan hamba-Nya. Setiap amal telah dihitung dengan teliti, dan setiap manusia akan berdiri di hadapan-Nya untuk mempertanggungjawabkan sekecil apa pun perbuatannya. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari hisab yang berat kecuali dengan selalu melakukan muhasabah dan pengawasan diri dalam setiap nafas, langkah, perkataan, dan perbuatan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Rasulullah ﷺ bersabda:
"الكَيِّسُ مَن دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوتِ، وَالعَاجِزُ مَن أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ"
"Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong kepada Allah."
(HR. At-Tirmidzi, hasan)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"لا تزولا قدما عبد يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع: عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ماذا عمل فيه"
"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, (2) tentang masa mudanya, bagaimana ia gunakan, (3) tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, (4) tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan."
(HR. At-Tirmidzi, hasan sahih)


Dengan ayat-ayat ini dan yang serupa dengannya, para pemilik wawasan mengambil pelajaran bahwa Allah Ta'ala selalu mengawasi amal perbuatan mereka. Allah telah mencatatnya secara lengkap dan menghitungnya secara rinci. Mereka yakin bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tampak sepele seperti bisikan hati, pandangan mata, ucapan, dan setiap gerakan. Oleh karena itu, mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk selamat dari hisab yang berat adalah dengan selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri) serta mengawasi diri sendiri dengan penuh ketelitian, memperhitungkan setiap hembusan nafas, langkah, dan perkataan mereka.

Hal ini merupakan kebiasaan orang-orang yang cerdas dan berakal, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ:

"الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني"
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah." (HR. Tirmidzi, hadis hasan).

Rasulullah ﷺ juga telah mengabarkan kepada kita bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu, sebagaimana dalam sabda beliau:

"لا تزولا قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيما أفناه، وعن شبابه فيما أبلاه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن علمه ماذا عمل فيه"
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya, bagaimana ia menggunakannya; tentang masa mudanya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; serta tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya."

Maka, wajib bagi setiap orang untuk menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah dan dimintai pertanggungjawaban. Orang yang menyadari hal ini seharusnya mempersiapkan jawaban yang tepat dan benar untuk menghadapi hisab tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh kepada seseorang:

"Berapa usiamu?"
Orang itu menjawab, "Enam puluh tahun."
Fudhail berkata, "Berarti selama enam puluh tahun engkau berjalan menuju Allah dan sebentar lagi engkau akan sampai."
Orang itu berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un."
Fudhail bertanya, "Apakah engkau tahu maknanya?"
Orang itu menjawab, "Ya, aku tahu bahwa aku adalah hamba Allah dan kepada-Nya aku akan kembali."
Fudhail berkata, "Wahai saudaraku, siapa yang tahu bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka ia harus menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya. Dan siapa yang tahu bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ia harus tahu bahwa ia akan dihisab. Dan siapa yang tahu bahwa ia akan dihisab, maka hendaknya ia menyiapkan jawaban." (Hilyatul Auliya’)

Muhasabah ini sangat penting, sebagaimana yang dipesankan oleh Umar bin Khattab رضي الله عنه:

"حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوا أعمالكم قبل أن توزن عليكم، وتزينوا للعرض الأكبر {يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ} [الحاقة:18]، وإنما يخف الحساب يوم القيامة على من حاسب نفسه في الدنيا"
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang, dan bersiaplah untuk hari perhitungan yang besar. 'Pada hari itu kamu akan dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.' (QS. Al-Haqqah: 18). Sesungguhnya hisab akan menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya di dunia."

Beliau juga berkata:

"حاسب نفسك في الرخاء قبل حساب الشدة، فإن من حاسب نفسه في الرخاء عاد أمره إلى الرضى والغبطة، ومن شغلته حياته، وألهته أهواؤه عاد أمره إلى الندامة والحسرة"
"Hisablah dirimu di waktu lapang sebelum datang masa sulit. Barang siapa yang menghisab dirinya saat lapang, maka urusannya akan berakhir dengan keridhaan dan kebahagiaan. Sedangkan siapa yang disibukkan oleh kehidupannya dan terpedaya oleh hawa nafsunya, maka urusannya akan berakhir dengan penyesalan dan kesedihan."

Allah juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri:

{وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ}

("Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.") (QS. Al-Qiyamah: 2)

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

"Engkau tidak akan menemukan seorang mukmin kecuali ia selalu menyesali dirinya sendiri: Mengapa aku melakukan ini? Apa tujuan dari perbuatanku ini?"

Malik bin Dinar juga berkata:

"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri: Bukankah engkau yang melakukan ini dan itu? Lalu ia menundukkan dirinya, mengekangnya, dan menundukkannya dengan kitab Allah, sehingga kitab itu menjadi pemimpinnya."

Maimun bin Mihran berkata:

"Seorang hamba tidak akan menjadi muttaqin (bertakwa) sampai ia menghisab dirinya sendiri sebagaimana seorang pedagang yang sangat teliti dalam menghitung modal dan keuntungannya."

Contoh Muhasabah:

  • Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan bahwa Umar bin Khattab pernah memasuki kebun kurma dan terdengar berkata kepada dirinya sendiri: "Umar bin Khattab, Amirul Mukminin! Hebat! Demi Allah, engkau harus bertakwa kepada Allah, wahai Umar, atau Allah akan mengazabmu!"

  • Yazid Ar-Raqashi setiap hari menghisab dirinya, lalu menangis dan berkata: "Celakalah engkau, wahai Yazid! Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah kematianmu? Siapa yang akan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapa yang akan bersedekah untukmu setelah kematianmu?"

Manfaat Muhasabah:

  1. Menyadari nikmat Allah dan memahami kewajiban bersyukur kepada-Nya.

  2. Memahami kekurangan diri dalam mensyukuri nikmat Allah.

  3. Mengenali penyakit hati dan mencari cara untuk mengobatinya.

  4. Menghindari kelalaian akibat panjang angan-angan.

  5. Menjaga diri dari kesalahan dan segera bertaubat jika tergelincir.

  6. Selalu siap menghadapi pertemuan dengan Allah.

  7. Memudahkan hisab pada hari kiamat.

Barang siapa yang ingin hisabnya ringan di hadapan Allah, hendaknya ia menghisab dirinya sekarang. Rasulullah ﷺ bersabda:

"الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني"
(HR. Tirmidzi, hadis hasan).

terjemahan tafsir Syiekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dalam QS. An-Nisa: 110

 link Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah : https://binbaz.org.sa/audios/3432/%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1-%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87-%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89-%D9%88%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%B3%D9%88%D8%A1%D8%A7-%D8%A7%D9%88-%D9%8A%D8%B8%D9%84%D9%85-%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%87-%D8%AB%D9%85-%D9%8A%D8%B3%D8%AA%D8%BA%D9%81%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%8A%D8%AC%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%BA%D9%81%D9%88%D8%B1%D8%A7-%D8%B1%D8%AD%D9%8A%D9%85%D8%A7


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Allah Subhanahu Wa Ta'alla berfirman :

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

(Barang siapa yang mengerjakan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.)

(QS. An-Nisa: 110)

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata tentang ayat ini:

"Allah memberitahukan kepada hamba-Nya tentang ampunan-Nya, kelembutan-Nya, kemurahan-Nya, keluasan rahmat-Nya, dan maghfirah-Nya. Maka siapa pun yang berbuat dosa, baik kecil maupun besar, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, meskipun dosa-dosanya lebih besar dari langit, bumi, dan gunung-gunung." (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir).

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah  berkata:

"Ini merupakan bagian dari keutamaan dan rahmat Allah yang Maha Suci dan yang Maha Tinggi serta kelembutan dan kemurahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang bertobat dan kembali kepada-Nya, maka Allah akan menerima tobatnya, meskipun dosa-dosanya sangat besar. Bahkan, dosa yang paling besar sekalipun, yaitu syirik kepada Allah. Jika seseorang masuk Islam, meninggalkan syirik, dan bertobat dengan tulus kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya."

Hal ini sebagaimana terjadi pada masa Nabi ﷺ saat Fathul Makkah, di mana banyak orang yang sebelumnya memerangi Nabi dan para sahabat, lalu bertobat. Maka Allah menerima tobat mereka dan mengampuni mereka.

Sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا


(Barang siapa yang mengerjakan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.)

(QS. An-Nisa: 110)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


(Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”)

(QS. Az-Zumar: 53)

Para ulama sepakat bahwa ayat ini berlaku bagi orang-orang yang bertobat. Maka, jika mereka bertobat dan kembali kepada Allah serta bertakwa, Allah akan menerima tobat mereka dari dosa syirik dan dosa-dosa lainnya. Oleh karena itu, tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, seseorang harus berbaik sangka kepada Allah dan segera bertobat dengan penuh keikhlasan, menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan dosa-dosa tersebut, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika seseorang memiliki hak orang lain yang masih ia tahan, maka wajib baginya untuk mengembalikan hak tersebut atau meminta kehalalan dari pemiliknya. Jika seseorang bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya, sebagai bentuk kemurahan dan rahmat-Nya.

Hukum Orang yang Meninggal dalam Keadaan Syirik

Pertanyaan: Bagaimana hukum seseorang yang meninggal dalam keadaan syirik?

Jawaban: Orang yang meninggal dalam keadaan syirik tidak akan diampuni oleh Allah, dan surga diharamkan baginya.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ


(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.)

(QS. An-Nisa: 48)

Hukum Kemunafikan

Pertanyaan: "Bagaimana dengan kemunafikan?"

Jawaban: "Kemunafikan besar (nifaq akbar) juga demikian, sebagaimana firman Allah:


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

(Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka) (An-Nisa: 145).

Kemunafikan besar adalah seseorang yang menyembunyikan kesyirikan dan kekufuran kepada Allah, tetapi secara lahiriah menampakkan Islam. Hakikatnya, ia berada bersama orang-orang musyrik dalam batinnya. Inilah nifaq akbar.

Adapun kemunafikan kecil (nifaq asghar), seperti berbohong, berbuat curang dalam perselisihan, mengingkari janji, serta berdusta dalam ucapan, maka ini disebut sebagai kemunafikan kecil, dan pelakunya termasuk dalam golongan orang-orang yang bermaksiat. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal ini."

Pertanyaan: "Apakah Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas?"

Jawaban: "Ia banyak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, tetapi ia tidak pernah mendengar langsung darinya. Ini yang dikenal dalam ilmu hadis, yaitu sanadnya munqathi' (terputus), namun ia banyak meriwayatkan dari Ibnu Abbas."

Ibnu Jarir juga berkata:

Muhammad bin al-Mutsanna meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Abi Adi meriwayatkan kepada kami, Syu'bah meriwayatkan kepada kami dari 'Ashim, dari Abu Wa'il, ia berkata:

Abdullah berkata: Dahulu, jika Bani Israil melakukan suatu dosa, maka keesokan harinya mereka akan menemukan kafarat (penebus dosa) tersebut tertulis di pintu rumah mereka. Jika mereka terkena najis berupa air kencing, maka mereka akan memotong bagian yang terkena najis tersebut dengan gunting.

Lalu seseorang berkata, "Sungguh, Allah telah memberikan sesuatu yang baik kepada Bani Israil." Maka Abdullah berkata:

"Apa yang Allah berikan kepada kalian lebih baik dari yang diberikan kepada mereka. Allah menjadikan air sebagai alat untuk menyucikan kalian." Kemudian ia membaca firman Allah:


وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ 


(Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.) (Ali 'Imran: 135).

Dan firman-Nya:


وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا 


(Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.) (An-Nisa: 110).

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Rahman bin Mahdi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Utsman bin Mughirah, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Rabi’ah dari Bani Asad meriwayatkan dari Asma’ atau Ibn Asma’ dari Bani Fazarah, ia berkata: Ali رضي الله عنه berkata:

"Ketika aku mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengan apa yang Dia kehendaki. Dan Abu Bakar—dan Abu Bakar adalah seorang yang jujur—telah menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang Muslim melakukan dosa, kemudian ia berwudhu, lalu mengerjakan salat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut, melainkan pasti Allah akan mengampuninya.' Kemudian beliau membaca dua ayat ini:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ... (QS. An-Nisa: 110)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ... (QS. Ali 'Imran: 135)

Kami telah membahas hadis ini dan menisbatkannya kepada para perawi dari kalangan penyusun kitab Sunan, serta telah kami sebutkan kritik terhadap sanadnya dalam Musnad Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, dan sebagian dari pembahasannya telah disebutkan dalam tafsir surat Ali 'Imran.

Ibnu Mardawaih juga meriwayatkannya dalam tafsirnya dari jalur lain yang berasal dari Ali رضي الله عنه, ia berkata:

"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ziyad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Al-Harrani."

(Catatan: Dalam naskah Asy-Sya'b, disebutkan sebagai Al-Harbi.)

Syaikh berkata: "Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi dikenal sebagai seorang imam yang terpercaya. Yang tertulis di sana Al-Harbi atau Al-Harrani?"

Salah seorang murid menjawab: "Al-Harrani."

Syaikh berkata: "Coba periksa, apakah ada Al-Harrani dalam kitab 'At-Taqrib' atau 'Al-Khulashah'?"

Yang diketahui adalah Al-Harbi, sebagaimana tertulis dalam naskah Asy-Sya'b. Beri tanda pada Al-Harrani, kemungkinan besar—dan Allah lebih mengetahui—itu adalah kesalahan penulisan (tashif).

Seorang murid berkata: "Hanya ada satu orang dengan nama ini... yaitu Ibrahim bin Ishaq bin Isa Al-Bunani—dengan huruf 'ba' yang didhammah, lalu 'nun'—maula mereka, Abu Ishaq Ath-Thalaqani, yang menetap di Marw, dan kadang dinisbatkan kepada kakeknya. Ia seorang yang shaduq (jujur), namun memiliki beberapa riwayat yang gharib. Ia berasal dari generasi kesembilan, wafat pada tahun 215 H. (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)."

Syaikh berkata: "Tidak ada perawi lain?"

Murid menjawab: "Tidak ada yang lain."

Syaikh berkata: "Mungkin ia tidak meriwayatkan dari mereka, sebab ia hidup setelah masa Abu Dawud dan An-Nasa’i. Coba periksa dalam 'Al-Khulashah' dan 'At-Taqrib'."

Seorang murid bertanya: "Apakah sebaiknya kita koreksi menjadi 'Al-Harbi', wahai Syaikh?"

Syaikh menjawab: "Tidak, biarkan sebagai nash sampai kita meneliti lebih lanjut."

Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Mehran Ad-Dabbagh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Yazid, dari Abu Ishaq, dari Abdu Khair, dari Ali رضي الله عنه, ia berkata:

"Aku mendengar Abu Bakar—yang merupakan Ash-Shiddiq—berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bangkit dan berwudhu dengan sempurna, kemudian mengerjakan salat dan memohon ampunan atas dosanya, melainkan pasti menjadi hak Allah untuk mengampuninya,' karena Allah berfirman: 

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ... (QS. An-Nisa: 110)."

Kemudian hadis ini juga diriwayatkan dari jalur lain melalui A'ban bin Abi Ayyash, dari Abu Ishaq As-Sabi’i, dari Al-Harith, dari Ali رضي الله عنه, dari Ash-Shiddiq رضي الله عنه dengan lafaz yang serupa. Akan tetapi, sanad ini tidak sahih.

Syaikh berkata: *"Maksudnya, sanad terakhir ini lemah karena A'ban bin Abi Ayyash seorang yang dha'if, begitu pula Al-Harith Al-A'war. Namun, hadis ini memiliki jalur lain yang tidak mengapa (la ba'sa bihi), dan maknanya menunjukkan bahwa wudhu sebelum bertaubat termasuk sebab diterimanya taubat. Jika seorang hamba bertaubat dengan taubat yang tulus, baik dalam keadaan berwudhu maupun tidak, maka Allah akan menerimanya, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ 

(QS. Asy-Syura: 25)

Maka siapa pun yang bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh, baik dalam keadaan berwudhu maupun tidak, Allah pasti menerimanya. Namun, jika dilakukan dalam keadaan suci, dengan penuh kerendahan hati, banyak menangis karena takut kepada Allah, tentu itu lebih sempurna."

Pertanyaan: Apakah hadis ini dengan seluruh jalur periwayatannya bisa naik derajatnya?

Jawaban: Tidak mengapa, hadis ini memiliki beberapa jalur, dan sebagian jalurnya baik, sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Ahmad.

Ibn Mardawaih meriwayatkan:

قال ابنُ مردويه: حدَّثنا محمد بن علي بن دحيم: حدَّثنا أحمد بن حازم: حدَّثنا موسى بن مروان الرقي: حدَّثنا مبشر بن إسماعيل الحلبي، عن تمام بن نجيح: حدَّثني كعب بن ذهل الأزدي، قال: سمعت أبا الدَّرداء يُحدّث قال:

"Dulu Rasulullah ﷺ ketika duduk bersama kami, jika beliau memiliki keperluan dan ingin pergi lalu kembali, beliau akan meninggalkan sandal atau sesuatu dari pakaian beliau di tempat duduknya. Suatu ketika, beliau pergi dan meninggalkan sandal beliau.

Abu Darda berkata: Aku mengambil tempat air berisi air, lalu mengikutinya. Beliau pergi sejenak, lalu kembali tanpa menyelesaikan keperluannya. Kemudian beliau bersabda: 'Tadi ada utusan dari Rabbku yang datang kepadaku dan menyampaikan firman-Nya:'

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (QS. An-Nisa: 110).

"Maka aku ingin memberi kabar gembira kepada sahabat-sahabatku."

Abu Darda berkata: Ayat sebelumnya

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ (QS. An-Nisa: 123)

"terasa berat bagi manusia. Lalu aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang berzina dan mencuri, lalu dia memohon ampun kepada Rabbnya, apakah dia akan diampuni?' Rasulullah menjawab: 'Ya.' Aku bertanya lagi untuk kedua kalinya, beliau menjawab: 'Ya.' Aku bertanya lagi untuk ketiga kalinya, beliau menjawab: 'Ya, meskipun ia berzina dan mencuri, lalu memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya, meskipun itu membuat Abu Darda merasa enggan menerimanya.' Kemudian aku melihat Abu Darda memukul hidungnya sendiri dengan jarinya."

Hadis ini sangat gharib dengan jalur periwayatan dan konteks seperti ini. Dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Pendapat Syaikh:

Hadis ini memiliki makna yang masyhur dari riwayat Abu Dzar yang disebutkan dalam Shahih Muslim:

"Meskipun Abu Dzar merasa enggan menerimanya."

Allah ﷻ telah memberikan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Siapa pun yang bertobat dengan tulus dan masuk Islam, maka Allah akan mengampuninya, meskipun sebelumnya ia berzina dan mencuri, karena dasar utama adalah tauhid. Jika seseorang bertobat dengan tulus, masuk Islam, dan kembali kepada Allah, maka ia berada dalam kebaikan dan harapan. Namun, jika ia mati dalam keadaan berzina tanpa bertobat, maka ia berada di bawah kehendak Allah. Jika ia bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya. Allah ﷻ berfirman:


وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ (QS. Asy-Syura: 25).


Siapa pun yang bertobat dengan tulus, baik dalam keadaan berwudhu atau tidak, Allah akan menerima tobatnya. Namun, jika ia bertobat dalam keadaan suci, dengan wudhu, penuh ketundukan, dan menangis karena takut kepada Allah, maka itu lebih sempurna.

Hadis ini dalam sanadnya terdapat kelemahan. Ibn Mardawaih banyak meriwayatkan hadis-hadis yang lemah. Mari kita lihat sanadnya:

Sanad: Muhammad bin Ali bin Duhaiim,Ahmad bin Hazim,Musa bin Marwan Ar-Raqqi,Mubasyir bin Isma'il Al-Halabi,Tammam bin Najih,Ka’b bin Dzuhl Al-Azdi,Abu Darda

Sanad ini bermasalah karena:

Ka’b bin Dzuhl – Hafizh Adz-Dzahabi berkata: "Tidak dikenal meriwayatkan dari Abu Darda."

Tammam bin Najih – Abu Hatim berkata: "Hadisnya lemah."

Mubasyir bin Isma'il – Disebutkan dalam Taqribut-Tahdzib bahwa ia "shaduq" (jujur), tetapi memiliki kesalahan.

Karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah yang kuat, tetapi maknanya bisa dikuatkan oleh hadis Abu Dzar dalam Shahih Muslim.

Jumat, 06 Desember 2024

"الابتعاد عن الله في حياة الجامعة: عبرة وذكرى" "Distance from Allah in University Life: A Lesson and Reminder"

قال لي الزمان: منذ أن دخلت الجامعة، ابتعدت عن الله.


والله، إن أيام الدراسة الجامعية متعبة للإيمان، هكذا قال لي.


عدم الابتعاد عن الله هو الفوز الحقيقي.


خذوا العبرة! لقد خسر كثير من الناس إيمانهم بسبب المعاصي المنتشرة في الحياة الجامعية، بل إن العلم أيضًا يضعف ويتلاشى يومًا بعد يوم.


الدراسة الجامعية مليئة بالمخاطر التي تبعد الإنسان عن الله، حيث تكون الشهوات في أوج قوتها، والنفس تميل إلى الهوى، وتجد نفسك محاطاً بالعشرات من الجنس الآخر وفرص الانزلاق.


لا يمكن تفادي الفاحشة إلا بصعوبة، وإن نجوت، فاسجد لله مرات عديدة شكراً.


نعم، الأمر ثقيل وصعب. لأجل الشهادة ولأجل العلم، تخوض غمار الحياة الجامعية، وهي ميدان امتحان مليء بكل أنواع الفتن، قد تبعدك عن الله أو تسقطك من مبادئك كإنسان صالح.


أما أنت الذي ما زلت في الطريق الصحيح وفي المكان الطيب، فبارك الله فيك، وجعل الله عاقبتك خيراً حتى يوم تخرجك.


ولك أنت الذي سقطت وتعثرت في الأخطاء، فقم وأصلح نفسك، وأكمل هذا الطريق مع الله وعلى طريق الخير.



The time said to me: "Since you entered university, you have distanced yourself from Allah."

By Allah, the days of university life are exhausting for the faith, that’s what it told me.

Not distancing yourself from Allah is the true success.

Take this lesson to heart! Many people have lost their faith because of the sins that prevail in university life. Even knowledge weakens and fades day by day.

University life is full of dangers that lead a person away from Allah, where desires are at their peak, the soul leans toward whims, and you find yourself surrounded by dozens of the opposite sex and opportunities to slip into sin.

Avoiding immorality is difficult, and if you survive, prostrate to Allah many times in gratitude.

Yes, it is heavy and hard. For the degree and for knowledge, you navigate through university life, a field of trials filled with all kinds of temptations that may distance you from Allah or cause you to fall from your principles as a good person.

As for you, who are still on the right path and in a good place, may Allah bless you and grant you a good ending until the day you graduate.

And for you, who have fallen and stumbled in mistakes, rise up, correct yourself, and continue this journey with Allah, on the path of goodness.

Rabu, 18 September 2024

ilmu naqd (علم النقد)

 النقد: التمييز وإخراج الزيف، شيء جميل وقبيح، دراسة الأعمال الأدبية، والبحث عن القبيح والجميل، ثم إصدار الأحكام المناسبة عنها


Ilmu Naqd : Naqd secara bahasa adalah kritik, yaitu: (التمييز وإخراج الزيف) memilih atau membedakan dan mengluarkan atau menyikirkan kepalsuan, maksudnya adalah proses kritik dan penilaian untuk menilai kualitas sesuatu dengan cara memisahkan yang benar dari yang salah. 

(شيء جميل وقبيح) Menilai aspek-aspek baik dan buruk dalam karya sastra  

(دراسة الأعمال الأدبية) Memahami dan menganalisis karya sastra. maksudnya adalah proses mempelajari dan menganalisis buku, puisi, drama, atau karya sastra lainnya untuk memahami isi, makna, dan kualitasnya. Ini melibatkan membaca secara mendalam, menilai gaya penulisan, tema, karakter, dan bagaimana semua elemen tersebut berfungsi dalam karya tersebut.

(البحث عن القبيح والجميل) berarti "mencari yang buruk dan yang baik" maksud  dalam kategori buruk dan baik. Ini membantu dalam menilai dan memahami kualitas keseluruhan dari sesuatu tersebut

(ثم إصدار الأحكام المناسبة عنها) kemudian memberikan penilaian yang tepat tentangnya maksudnya adalah memberikan penilaian yang sesuai dan tepat mengenai sesuatu tersebut. Dalam konteks karya sastra, ini berarti memberikan penilaian akhir tentang kualitas dan nilai karya setelah menganalisis  baik dan buruk di dalamnya


فرغ بين البلاغة دراسة و النقد دراسة النص perbedaan antara balaghah  dan naqd

Balaghah

1. (علوم الجمالية) = Ilmu tentang keindahan dan gaya bahasa dalam teks. (tidak seusait kaidah kaidah makna)

2. (معاني و البيان و البديع) = fokus kedalam ilmu badi', bayan dan ma'ani


Naqd

1. (علوم النقد معنى) Ilmu tentang penilaian dan analisis teks (menkritik makna).
2. (روح العلم و الفهم) =  fokus pemahaman dalam mengevaluasi dan menganalisis teks. Ini melibatkan kemampuan untuk memahami kualitas teks, kebenaran, dan konsistensi serta memberikan penilaian yang tepat.

Tentu! Berikut adalah struktur yang lebih rapi dan terorganisir mengenai cara mengkritik (النقد):

---

Cara Mengkritik (النقد)

1. لغة النص
   - Definisi: "Bahasa teks" atau "bahasa dalam teks."
   - Kosakata: Merujuk pada kosakata atau istilah yang digunakan dalam teks.

2. أفكار النص
   - Definisi: "Ide-ide teks" atau "gagasan-gagasan dalam teks."
   - Fokus: Konsep atau pemikiran utama yang disampaikan dalam teks.

3. تفسير النص
   - Definisi: Penafsiran teks.
   - Fokus: Memahami dan menjelaskan makna teks.

4. التخليل
   - Definisi: Penjelasan atau analisis.
   - Fokus: Menganalisis dan memberikan penjelasan tentang elemen-elemen dalam teks.

5. الأحكام
   - Definisi: Hukum atau penilaian.
   - Fokus: Menilai dan memberikan keputusan akhir mengenai teks.

---


Sabtu, 07 September 2024

Pembahasan Kitab adab seorang muslim dalam keseharian dan malam

Link ke Kitab: 

Anda dapat mengakses kitab tersebut melalui tautan berikut: Kitab Adab Seorang Muslim dalam Keseharian dan Malam.

Bab 1: Adab Tidur dan Bangun Tidur

1. Muhasabah Diri Sebelum Tidur

Sebelum tidur, seorang Muslim sebaiknya melakukan muhasabah diri, yaitu merenung dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan sepanjang hari. Ini penting agar kita bisa memperbaiki diri.

  • Jika kita merasa telah melakukan kebaikan: Ucapkan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah) sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan.

  • Jika kita merasa telah melakukan kesalahan atau keburukan: Mintalah ampun kepada Allah dengan beristigfar (meminta ampun) dan bertaubat (berjanji untuk tidak mengulanginya). Tetapkan tekad untuk menjadi lebih baik ke depannya, dengan izin Allah.

Dengan melakukan hal ini, kita dapat tidur dengan hati yang tenang dan siap untuk memperbaiki diri di hari yang akan datang.

2. Tidur di Awal Waktu

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ biasanya tidur di awal malam dan bangun di akhir malam untuk melaksanakan shalat.

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يَنَام أول اللَّيل، ويقوم آخره فَيُصلِّي. أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat.

3. Disunnahkan Berwudhu Sebelum Tidur dan Berbaring Menghadap ke Sisi Sebelah Kanan
    
عَنِ البَرَّاء بنِ عَازِب، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَأْ وُضُوءَكَ للصَلاةِ، ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Ini adalah sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum tidur. Meskipun dianjurkan berbaring menghadap ke sisi kanan, tidak ada masalah jika setelah itu posisi kita berubah menghadap ke sisi kiri. 

4. Disunnahkan Mengibaskan Kasur

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan agar kita mengibaskan kasur sebelum tidur. Hal ini dilakukan untuk membersihkan kasur dari kemungkinan adanya kotoran atau makhluk yang tidak terlihat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «إذا أوى أحدكم إلى فراشه فَليَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إزَارِهِ فإنَّهُ لا يدري ما خلفه عليه

dari abu hurairah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Abu Dawud ) 

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa mengibaskan kasur sebaiknya dilakukan sebanyak tiga kali. Caranya adalah dengan menggunakan bagian dalam kain (ujung kain) untuk mengibaskan kasur, terutama bagian tengah kasur, sebelum kita tidur di atasnya.

5. Diharamkan Tidur dalam Keadaan Tengkurap

hadist dari abu dzar rodiyallahu anhu

مَرَّ بِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِى فَرَكَضَنِى بِرِجْلِهِ وَقَالَ يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ


Abu Dzarr -raḍiyallāhu 'anhū- pernah menceritakan bahwa saat beliau sedang tidur tengkurap, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati beliau dan menggerakkan beliau dengan kaki sambil bersabda: "Wahai Junaidib, tidur seperti ini adalah tidur yang dilakukan oleh penghuni neraka." 

6. Diharamkan Tidur di Atas Atap Rumah Tanpa Penghalang

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

 من بات على ظهر بيت ليس عليه حجاب فقد برئت منه الذمة    

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga melarang tidur di atas atap rumah tanpa adanya penghalang atau penutup. Beliau bersabda: "Barang siapa tidur di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka sesungguhnya ia terlepas dari kewajiban."

Tidur di atas atap rumah tanpa penghalang berpotensi membahayakan, baik karena kemungkinan terjatuh atau gangguan dari luar. Oleh karena itu, disarankan untuk memastikan bahwa tempat tidur kita aman dan terlindungi dari kemungkinan bahaya.

7. Menutup Pintu, Mematikan Lilin, dan Lampu

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ بِاللَّيْلِ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا (وَأَغْلِقُوا) الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ قَالَ هَمَّامٌ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَوْ بِعُودٍ يَعْرُضُهُ 

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajarkan beberapa adab sebelum tidur, termasuk menutup pintu, mematikan lampu, dan menutup wadah-wadah yang berisi makanan dan minuman. Jabir -raḍiyallāhu 'anhū- meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Matikanlah lampu-lampu pada malam hari ketika kalian hendak beristirahat (tidur), dan tutuplah pintu-pintu, tutuplah wadah-wadah yang berisi air, serta tutuplah makanan dan minuman." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8. membacah surat ayat kursi dan albaqarah ayat terakhir/khaa timah dan surah al ikhlas, الموذتين (al-Mu'awwidhatayn/surat al falaq dan surat an nas) 

hal ini disebutkan di dalam hadist hadist yang shahih.

9. Membaca Beberapa Doa dan Dzikir Sebelum Tidur

Sebelum tidur, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan untuk membaca doa dan dzikir tertentu sebagai bentuk perlindungan dan memohon keberkahan dari Allah. Beberapa doa dan dzikir yang disarankan adalah:

  • Doa Perlindungan dari Siksa Allah:

    "اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ"
    "Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari saat Engkau bangkitkan para hamba-Mu."

    Disarankan untuk membaca doa ini sebanyak tiga kali sebelum tidur. Doa ini memohon perlindungan dari siksa Allah di hari kiamat, sebagai bentuk kewaspadaan dan pengharapan akan rahmat-Nya.

  • Dzikir Sebelum Tidur:

    "بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا"
    "Dengan nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup."

    Dzikir ini dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur sebagai pengakuan atas kekuasaan Allah dan sebagai bentuk tawakal (pasrah) kepada-Nya. Dengan menyebut nama Allah, kita menunjukkan keimanan kita bahwa kehidupan dan kematian berada dalam kekuasaan-Nya.

Membaca doa dan dzikir ini sebelum tidur membantu menenangkan hati dan memohon perlindungan dari Allah, serta merupakan bagian dari adab tidur

10. Doa bagi Mereka yang Takut Tidur atau Mengalami Insomnia

Jika seseorang merasa takut atau khawatir saat akan tidur, atau mengalami insomnia (kesulitan tidur), dianjurkan untuk membaca doa berikut:

"أَعْوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُون"

"Aku berlindung pada Kalimat Allah yang Sempurna dari murka-Nya dan hukuman-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari ejekan setan-setan serta dari kehadiran mereka."

Doa ini merupakan permohonan perlindungan dari berbagai bentuk gangguan, baik dari murka dan hukuman Allah, kejahatan makhluk-Nya, serta gangguan dari setan. Membaca doa ini dapat memberikan ketenangan dan membantu seseorang merasa lebih aman sebelum tidur.

11. Doa Setelah Bangun dari Tidur

Ketika bangun dari tidur, disarankan untuk mengucapkan:

"الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ"

"Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nyalah kami dibangkitkan." (HR. Al-Bukhari)

Doa ini merupakan ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat kehidupan setelah tidur. Dengan mengucapkan doa ini, kita mengingat kembali bahwa kehidupan dan kematian berada di tangan Allah dan menunjukkan rasa syukur kita atas nikmat yang diberikan.

Senin, 12 Agustus 2024

kitab darsul muhimah Pelajaran ke 2 Rukun Rukun Islam

Penjelasan Syahadat dan Rukun Islam

Ketika mengajarkan rukun Islam, terutama kepada orang awam, tidak cukup hanya menyebutkan lima rukun Islam. Penting juga untuk menjelaskan makna dari kalimat syahadat serta syarat-syaratnya. Syahadat Laa ilaha illallah memiliki makna yang dalam, yaitu menafikan (menolak) semua bentuk penyembahan kepada selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah saja.

Rukun-Rukun Islam

Islam berdiri di atas lima rukun yang menjadi dasar bagi keyakinan dan praktik keagamaan seorang Muslim. Rukun Islam ini diibaratkan sebagai pilar-pilar yang menopang sebuah bangunan; tanpa pilar-pilar ini, bangunan tidak akan berdiri kokoh.

Syahadat (Lailahaillallah): Rukun pertama dan yang paling mulia adalah mengucapkan syahadat: "Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah." Syahadat ini berarti "Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah." Syahadat ini mencakup dua bagian penting:

Makna dan Penjelasan Syahadat:

  • Lailahaillallah: Mengandung makna bahwa kita menafikan semua yang disembah selain Allah. Artinya, semua benda atau makhluk, baik hidup atau mati, yang disembah selain Allah adalah tidak benar.
  • Illallah: Menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja, tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Makna dan Syarat Syahadat:

  • Makna "Laa ilaaha illallah": Menegaskan bahwa segala bentuk penyembahan harus ditujukan hanya kepada Allah.
  • Syarat-syarat Laa ilaaha illallah: Seseorang harus memahami, meyakini, dan mengamalkan syahadat ini tanpa keraguan atau penambahan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid.

Rukun Islam: Islam tidak akan tegak kecuali dengan rukun-rukunnya. Rukun di sini berarti elemen-elemen utama yang menjadi penopang bagi agama. Seperti sebuah rumah yang tidak bisa berdiri tanpa pilar-pilar, begitu juga Islam tidak bisa tegak tanpa lima rukun ini.

Rukun Islam ada lima dan merupakan fondasi yang harus dipenuhi agar agama Islam bisa tegak. Berikut penjelasan tentang rukun Islam:

  1. Syahadat: Persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.
  2. Shalat: Menjalankan shalat lima waktu.
  3. Zakat: Membayar zakat bagi yang mampu.
  4. Puasa: Berpuasa di bulan Ramadhan.
  5. Haji: Menunaikan haji bagi yang mampu.

Penjelasan tentang Rukun:

  • Rukun dalam konteks ini adalah bagian dari sesuatu yang paling kuat, seperti tiang-tiang pada bangunan. Tanpa tiang-tiang ini, bangunan tidak akan bisa berdiri dengan kokoh.
  • Dengan kata lain, rukun Islam adalah fondasi yang harus ada dan harus dipenuhi agar agama Islam dapat berdiri tegak.

Untuk membangun Islam yang kuat, tidak hanya perlu memahami dan melaksanakan rukun-rukun Islam, tetapi juga memastikan bahwa fondasi (rukun-rukun) tersebut kokoh. Tiang-tiang (rukun-rukun) ini harus dibangun dengan baik agar dapat menopang bangun Islam memiliki lima rukun yang diibaratkan sebagai tiang-tiang dalam sebuah bangunan. Bangunan tidak akan berdiri kokoh tanpa tiang-tiang yang kuat. Begitu juga dengan Islam, agama ini tidak akan tegak tanpa rukun-rukun tersebut. Rukun-rukun Islam harus dipenuhi dan menjadi dasar yang kokoh bagi keimanan seseorang. bahwa tiang-tiang ini tidak hanya harus ada, tetapi juga harus kokoh. Artinya, pelaksanaan rukun Islam harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Makna Islam:

Syekh Abdul Razzaq menjelaskan bahwa rukun-rukun Islam adalah pilar-pilar dan bagian yang paling kuat dari Islam, tanpa rukun-rukun ini, Islam tidak dapat berdiri dengan tegak. Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepada Allah dalam ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelaku kesyirikan.

  • Islam secara bahasa berarti "penyerahan diri" kepada Allah. Makna ini mencakup tiga hal penting:
    1. Menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya: Ini berarti meyakini dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi.
    2. Tunduk dan patuh kepada Allah dalam ketaatan kepada-Nya: Seorang Muslim harus menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
    3. Berlepas diri dari kesyirikan dan sekutu-sekutunya: Islam mengajarkan untuk menjauhkan diri dari segala bentuk penyekutuan Allah (syirik) dan para pelaku kesyirikan.

 Hubungan Islam dengan Rukun-Rukun:

Islam berarti tunduk dan berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. Barang siapa yang tidak tunduk kepada Allah, maka dia sombong, dan siapa yang berserah diri kepada Allah tetapi juga kepada yang lain, dia adalah seorang musyrik (penyekutuan Allah).

  • Islam: Adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. Seorang Muslim harus tunduk dan patuh hanya kepada Allah.
  • Kesombongan dan Syirik: Dua hal ini adalah lawan dari Islam. Seseorang yang tidak mau tunduk kepada Allah berarti sombong, dan orang yang menyembah selain Allah berarti telah melakukan syirik.
Kesombongan: Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Kesombongan bertentangan dengan ajaran Islam. Jika seseorang mengaku Islam tetapi bersikap sombong, maka agamanya bermasalah.

Kesombongan bisa terkait dengan hal-hal yang ada pada diri seseorang seperti pintar, gagah, tampan, ilmu, atau terkait dengan hal-hal di luar tubuh seperti harta, jabatan, dan anak.

Syirik: Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dalam bentuk ibadah atau ketaatan. Jika seseorang menyembah Allah tetapi juga menyembah selain-Nya, maka dia dianggap musyrik.

Penjelasan Dosa Besar:

  • Dosa Besar Terkait Hati: Ini termasuk dosa seperti sombong, putus asa, dan lain sebagainya. Dosa ini tidak terlihat secara fisik, tetapi merusak dari dalam.
  • Dosa Besar Terkait Anggota Badan: Ini adalah dosa yang terlihat dalam tindakan, seperti membunuh, zina, mencuri, dan lain-lain.

Contoh Kesombongan dalam Al-Quran:

  • Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan Surat Luqman ayat 18, yang mengingatkan tentang kesombongan. Tafsir Al-Alusi menyebutkan bahwa sombong bisa terkait dengan hal-hal internal seperti kecerdasan, ketampanan, atau ilmu, serta hal-hal eksternal seperti harta, jabatan,
SYARAH
Rukun Islam yang paling utama dan memiliki kedudukan tertinggi adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mendahulukan syahadat ini dalam sabdanya yang berbunyi: "Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah." Syahadat ini, yaitu mengakui keesaan Allah dan kenabian Muhammad, adalah rukun Islam yang paling besar dan paling penting. Bahkan, syahadat ini adalah dasar agama Islam itu sendiri.

Syahadat adalah fondasi utama yang menjadi dasar dari segala sesuatu dalam Islam. Kalimat "La ilaha illallah" adalah kalimat yang paling agung, paling mulia, dan paling utama. Kalimat ini adalah dzikir yang paling baik, sebagaimana Nabi kita ﷺ bersabda: "Dzikir yang paling utama adalah 'La ilaha illallah'."

ويقول - عليه الصلاة والسلام : خَيْرُ الدَّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْت أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

Hadis tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Lā ilāha illallāh wahdahu lā syarīka lahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa 'alā kulli syai’in qadīr” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Hadis ini mengajarkan tentang pentingnya kalimat tauhid, yang merupakan intisari dari semua ajaran para nabi.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

 ﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيَ إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴾ [الابنية : ٢٥]

 “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku” (Al-Anbiya: 25). Ayat ini menunjukkan bahwa semua nabi diutus untuk mengajak umatnya menyembah Allah semata.

 ما معنى: «لا إله إلا الله) : فقد ذكر تحمله أن : ((لا إله) نافيا جميع ما يُعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتا العبادة لله وحده لا شريك له فهي كلمة قائمة على ركنين عظيمين

Penjelasan dari kalimat "Lā ilāha illallāh" adalah bahwa kalimat ini terdiri dari dua bagian penting: penafian dan penetapan.

1. Penafian ("Lā ilāha"): Bagian ini menolak semua bentuk sesembahan selain Allah. Dengan kata lain, ini menegaskan bahwa tidak ada yang layak disembah selain Allah. Semua yang disembah selain Allah, baik itu benda mati, hewan, tumbuhan, atau apapun selain Allah, ditolak dan dianggap tidak sah untuk disembah.

2. Penetapan ("illā Allāh"): Bagian ini menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah. 

“Dua dasar yang kuat ini adalah penafian dan penegasan. Tidak ada tauhid kepada Allah - yang Mahatinggi dan Mahamulia - tanpa keduanya: penafian secara umum terhadap segala sesuatu yang disembah selain Allah, apa pun bentuknya, apakah itu benda mati, hewan, tumbuhan, atau selainnya.”

Dan penetapan khusus bahwa segala bentuk ibadah, dengan semua maknanya, hanya ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menafikan (menolak) tanpa menetapkan, dia tidak dianggap bertauhid. Dan barang siapa yang menetapkan tanpa menafikan, dia juga tidak dianggap bertauhid. Maka, seseorang baru dianggap bertauhid jika dia melakukan penafian dan penetapan sekaligus.”

Selasa, 06 Agustus 2024

kitab ushul min ilmi ushul syaikh shalih al utsaimin (1)

 Mengenal Ushul Fiqih dan Penjabarannya

Definisi Ushul Fiqih 

Ushul Fiqih memiliki dua penjabaran:

Penjabaran ke 1 Berdasarkan Makna Kata Per Kata:

Ushul: Kata "ushul" adalah bentuk jamak dari "aslu," yang dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang menjadi dasar atau fondasi bagi sesuatu yang lain. Contoh yang diberikan dalam teks adalah fondasi sebuah tembok yang menjadi dasar bangunan atau akar dari sebuah pohon yang menjadi dasar dari cabang-cabangnya. allah ta'alla berfirman di dalam surat ibrahim ayat 24

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit  

dan fiqih yaitu pemahaman

Penjabaran ke 2 Berdasarkan Struktur Kalimat (Mudhof dan Mudhof Ilaih):

Istilah "Ushul Fiqih" terdiri dari dua kata: "ushul" (mudhof) dan "fiqih" (mudhof ilaih). Dalam tata bahasa Arab, ini dikenal sebagai konstruksi idhofah, di mana dua kata digabungkan untuk membentuk makna yang lebih spesifik. Dalam hal ini, "ushul" (dasar atau prinsip) dikaitkan dengan "fiqih" (pemahaman hukum), sehingga menggabungkan kedua kata ini mengindikasikan bahwa ilmu ini adalah tentang dasar-dasar yang digunakan untuk memahami fiqih.


        TAMBAHAN

"aslu" bisa merujuk pada dasar atau fondasi dalam berbagai konteks, seperti fondasi seperti tembok,akar pohon, atau leluhur manusia yang menjadi sumber keturunannya. Dalam ushul fiqih, prinsip ini diterapkan dalam memahami bahwa setiap hukum syariat dibangun di atas dasar-dasar atau prinsip-prinsip tertentu, yang disebut sebagai "ushul."

Sebagai contoh, dalam hal tembok, fondasi yang menjadi dasar disebut "aslu" karena tanpa fondasi, tembok tidak bisa berdiri. Demikian pula, dalam ushul fiqih, prinsip-prinsip dasar ini adalah yang menopang dan membentuk pemahaman hukum-hukum Islam. 


PENGERTIAN FIQIH

Fiqih secara bahasa artinya adalah pemahaman. Dalam Al-Qur'an, surat Thaha 


وَاحۡلُلۡ عُقۡدَةً مِّنۡ لِّسَانِیْ ۙ‏ ٢٧


dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

يَفۡقَهُوۡا قَوۡلِیْ ‏ ٢٨

agar mereka mengerti perkataanku,

Menurut Tafsir Al-Qurtubi, ayat ini berarti agar orang-orang memahami apa yang disampaikan oleh Nabi Musa. Ini menunjukkan bahwa fiqih dalam bahasa Arab mencakup segala bentuk pemahaman, bukan hanya dalam konteks hukum syariat. artinya orang tersebut memahami apa yang dikatakan. Dalam surat Al-Isra ayat 44, Allah juga berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبۡعُ وَالۡاَرۡضُ وَمَنۡ فِيۡهِنَّ​ؕ وَاِنۡ مِّنۡ شَىۡءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهٖ وَلٰـكِنۡ لَّا تَفۡقَهُوۡنَ تَسۡبِيۡحَهُمۡ​ؕ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيۡمًا غَفُوۡرًا‏ 

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.

Ini menegaskan bahwa dalam bahasa, fiqih adalah pemahaman umum yang tidak terbatas pada hukum-hukum agama saja.

Fiqih secara istilah (واصطلاحا) adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan amalan, dengan menggunakan dalil-dalil yang terperinci. Definisi ini berbeda dengan definisi sebagian ahli ushul fiqh yang menyebutkan bahwa fiqih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syariat cabang (الفرعية) dengan dalil-dalil terperinci

Namun, Pandangan Syekh Islam Ibnu Taimiyyah tentang pembagian hukum syariat sangat kritis terhadap konsep pemisahan antara "ushul" (prinsip-prinsip dasar) dan "furu'" (cabang-cabang hukum). Dalam kutipan yang disebutkan, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa pembagian ini tidak tepat. Dia mencontohkan shalat, Karena mereka menjadikan shalat, misalnya, sebagai bagian dari furu' (cabang), padahal shalat adalah dari ushul al-ushul (dasar dari segala dasar). Bagaimana kita bisa mengatakan ada ushul dan furu'? Siapa yang membawa pembagian ini?"

Oleh karena itu, beliau menyatakan bahwa pembagian ini tidak benar dan tidak memiliki dasar dalam agama

Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya lebih memilih untuk menggunakan istilah yang lebih netral seperti "عملية" (amaliyah), yang berarti hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan atau praktik, tanpa membedakannya menjadi ushul dan furu'. Dengan demikian, mereka menghindari pembagian yang dianggap tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. 

 


 


WAHAI PARA PEMUDA HISABLAH DIRIMU SEBELUM ENGKAU DIHISAB

SUMBER: https://islamweb.net/ar/article/228760/%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D9%88%D8%A7-%D8%A3%D9%86%D9%81%D8%B3%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%A8%D9%84-...